Marak “Ngelem” di Kota Palopo, Ketua Komnas PA: Awasi Ketat, Jangan Hanya Diam!

Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, Mendampingi Menteri PPPA RI, Saat Memberikan Keterangan Pers, Terkait Maraknya Eksploitasi Seksual Komersial & Perdagangan Anak Serta Kenakalan Remaja Lainnya, di Kantor Kemen PPPA, (Ist)

PALOPO | KATASATU.co.id – Ketergantungan terhadap penggunaan lem Fox dan Aibon atau istilah “Ngelem” dikalangan anak-anak dan remaja, di Indonesia khususnya di Kota Palopo, kian menghawatirkan. Selain merusak masa depan, mental dan jiwa, juga mengakibatkan radang pada otak.

Keluhan demi keluhan dari masyarakat, terus berdatangan, baik secara lisan maupun dilontarkan kesejumlah Media Sosial (Medsos). Kritikan pun, tak lepas dari kalangan masyarakat yang merasa resah, dan terganggu hampir ditiap malamnya.

Bacaan Lainnya

Khususnya di wilayah Lapangan Skateboard dan Basket di Jl. Mangga, Kelurahan Lagaligo, Kecamatan Wara Kota Palopo, yang marak dijadikan lokasi “Ngelem”.

Masalah darurat tersebut, kini telah sampai ke telinga Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA). Pihaknya mendesak Pemerintah Kota (Pemkot), para orang tua dan masyarakat, untuk memutus mata rantai terkait penggunaannya.

“Jangan hanya diam, tidak ada toleransi terhadap zat adiktif itu, Pemkot Palopo, atau lebih luas lagi, kepada Pemprov Sulsel, untuk memperketat pengawasan perdagangan dan penjualan lem fox dan aibon kepada anak-anak,” ujar Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, saat dikonfirmasi melalui Via WhatsApp, Sabtu (22/2/2020).

Dalam siaran persya, dirinya meminta kepada Pemkot untuk tidak berdiam diri, menunggu jatuhnya korban, sementara hak anak di Palopo terus bertambah, akibat pembiaran dari sang pemegang peranan.

“Masalah ini jangan dibiarkan berlarut, sedang masa depan anak semakin terancam, dan kehidupan terus berada dilingkaran kejahatan dan ekspolitasi,” tulis Arist dalam siaran persnya.

Sementara itu, Kapolsek Wara, Kompol. Marten Sipa, saat dihubungi, mengaku akan terus melakukan pencegahan dengan rutin berpatroli hampir ditiap malamnya.

“Kami juga menempatkan anggota berpakaian preman dilokasi yang dianggap rawan. Namun sangat jarang ada yang ditemui,” ujar Kapolsek.

Dia menambahkan, khusus kepada para orang tua, untuk wajib membatasi pergaulan dan interaksi anak, dilingkungan yang dianggap berbahaya dan rawan tindak kejahatan.

Dikatakan Camat Wara, Rustam Lalong, pihaknya meminta kesepakatan dan kerjasama, antara Pemkot, masyarakat dan orang tua, sebagai bentuk pencegahannya.

“Tim terpadu sangat perlu dibentuk, untuk memberantas ruang gerak mereka,” pungkasnya.

Berdasarkan data sejak April 2018, ditemukan delapan bocah diamankan Babinsa dan Bhabinkamtibmas di Jl. A. Mappanyompa (Nyiur)Lorong Idaman, Kecamatan Wara Timur, kedelapannya diamankan lantaran tengah asyik berpesta “Ngelem”.

Bahkan, dua diantaranya adalah diketahui adalah perempuan, akibatnya, mereka digiring ke Kantor Kelurahan Salekoe untuk diberikan pembinaan dan diserahkan ke orang tua masing-masing. (all/rdk)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.